?

Log in

 
 
29 January 2012 @ 04:55 pm
FF: P3P  

Title: Ga kepikiran ==
Fandom: Persona 3 Portable
Chara: Shinjiro x Minako x Akihiko, tapi lebih ke arah ShinjiMina dan kayaknya bakal bikin Aki-fans tersinggung jadi yang shipping AkiMina atopun Aki mending nggak baca ==
Language: Indonesia *grammar lagi kacau kebanyakan galau*
Note: Pesenan tatsumi8891 =3= but eshtar forced me too write it down too... udah lama nggak nulis cerita *IPB bapuk* jadi nggak segitu bagus deh ==;;; endingnya aja abal banget but still, here you go.




~~~~~~~~~

3 Maret 2010.
Aku melangkah menjauh dari Kuil Naganaki… Kata-kata dari nyonya Kamiki masih terngiang jelas di telingaku dan ingatanku. Hari ini, hari ulang tahun almarhum sahabatku… ya, aku harap aku bisa menyebutnya begitu, mengingat bagaimana aku mempercayai Akinari dan Akinari mempercayaiku dalam hidupnya yang tidak lama itu.

“Take good care of the ones dearest to you. If you wait until their time has come, and you’re clinging to their cold bodies… then it’s too late. Everyone who’s born will die someday. So, before it comes, if you love someone, let them know it. We all go through life with same struggles, the same heartbreak, we should be able to prop each other up with the same love and kindness as well…”

Aku tersenyum, tersenyum pahit. Kami baru saja saling mengenal dan bertemu hari ini tapi entah mengapa, kata-katanya sangat mengena di hatiku. Ya, memang sih kami berdua sama-sama merasa kehilangan atas perginya Akinari, tapi… ada seorang juga yang pergi dari hidupku.

Aku tidak bisa bilang dia sepenuhnya pergi, jasadnya masih ada di bumi ini, dengan napas yang masih berhembus, meski ada di dalam ruang ICU rumah sakit yang bahkan tidak ada orang lain selain dokter dan perawat yang boleh masuk ke dalamnya.

Tapi itu tak ada bedanya dengan dia pergi kan? Sudah berbulan-bulan aku tidak bisa bertemu dengannya… datang menjenguk saja pun tak bisa…

Aku berjalan tak tentu arah, tapi matahari sudah mulai beranjak bersembunyi bersama senja… Aku melihat jam di lengan kiriku, sudah menunjukkan pukul 5 sore.

Jam ini,

Jam kulit ini, pemberiannya yang terakhir kan?

Shinjiro…

Aku menghela napas panjang, dan tanpa sadar sedikit air mataku menetes.

Kenapa?

Kenapa aku selalu meneteskan air mata setiap mengingatnya? Tunggu, bahkan hanya dengan mengingat namanya pun dadaku sudah terasa sesak.

Shinji…

Aku tercenung. Tidak! Seorang Minako kan orangnya kuat! Leader dari SEES dan Nyx Anhilliation Team masa secengeng ini?? Ayo tegar, Minako, tegaaaaaaaaaar!!!

…agak bodoh rasanya menyemangati diri sendiri seperti ini =__=

Tapi, bagaimana juga aku memang harus tegar kan? Dan pelan-pelan kulangkahkan kakiku menuju asrama.

~~

Kubuka pintu asrama pelan-pelan… tak ada orang. Ya, semuanya sibuk dengan dunia mereka yang baru. Dunia yang tenang dan tanpa ada shadow, Tartarus, dan sebagainya. Sepertinya hanya aku yang mengingat semua yang telah terjadi… ya tapi kan Ryoji, oke, Nyx, juga sudah mengingatkan sebelumnya jika kami akan kehilangan semua ingatan kami jika ia telah kalah nanti…

Aku berjalan ke arah dapur sebelum menuju kamarku. Lapar, padahal tadi sudah makan mi ramen special di Hagakure. Tapi, baru juga aku melewati pintu dapur, dadaku terasa sesak lagi.

…di dapur ini, aku teringat bagaimana ia memasak, baik bersama denganku atau mengajari Fuuka sambil menyiapkan makanan untuk orang-orang seasrama. Dia, Shinjiro-ku, yang selalu menatap garang dengan dandanan ala gangsternya – long pea coat dan beanie, serta kemampuan bertarung yang handal karena ia menjalani hidupnya yang keras dan liar di jalan, ternyata memiliki kemampuan memasak selevel chef profesional. Atau bahkan lebih dari itu.

Haha, dia memang lelaki yang berbeda dari yang lain, dia satu-satunya dan tak ada yang bisa menyamai dia… Mana ada preman jalanan yang hobinya menonton acara memasak di televisi?  Yaaa, meski dia kadang malu mengakuinya sih. Tapi dia memang lucu dengan sifatnya seperti itu. Aku suka sekali mengerjainya dengan memaksanya bertarung dalam jas butler dan dandanan rapih, lalu menyembunyikan kapaknya dan menukarnya dengan papan tanda ‘Bus Stop’… dia marah-marah sih, sedikit, tapi dia juga tidak menolak kan?

Aku masih mengingat semuanya, semua yang ia lakukan, semua yang ia katakan, semuanya… Aku bahkan masih mengingat tatapan tajamnya saat pertamakali bertemu denganku di rumah sakit saat kami menjenguk Akihiko yang sedang sakit…

Apakah ia juga mengingatnya? Atau ia telah lupa seperti yang lainnya?

Aku beranjak dari dapur tanpa melakukan apa-apa, rasa laparku mendadak menghilang begitu saja. Rasa sesak makin menjalar di dadaku dan air mataku mulai menetes lagi.

Ya Tuhan.

Aku setengah berlari menuju tangga dan dalam sekejap saja aku sudah sampai di lantai 2 asrama, lantai dari para siswa lelaki, dan berusaha langsung berjalan menuju ke lantai ketiga… Tapi salahkan papan nama keperakan itu. Pintu kamar Shinjiro memang ada paling dekat dari tangga dan kilauannya langsung mencuri penglihatanku.

Aku berhenti melangkah sebentar, lalu berbelok dan berganti berjalan menuju kamar itu. Kubuka pintunya, tidak dikunci. Aku selalu menghindari masuk ke dalam ruangan ini sejak ia pergi, tetapi kali ini aku tak bisa menahannya lagi.

Kamar ini…

Tak jauh beda dengan kondisinya saat ia masih tinggal di sini, hampir kosong jika saja tidak ada tempat tidur, meja, dan bangku itu. Tapi kali ini berbeda, ada satu box yang berisi perlengkapan yang biasa ia gunakan, semuanya ia letakkan di situ…

Shinjiro, kamu bahkan sudah meramalkan bahwa kamu akan pergi ya?

Yah, tentu saja… Jika tidak ia tidak akan memintaku untuk selalu menjaga diriku apapun keadaannya, menjaga senyum dari semua orang, menata semua barangnya dalam box ini, ataupun …menitipkan Akihiko padaku.

Bodoh. Shinjiro bodoooooooooooooh.

Ya, dia memang tampak seperti saudara kandung dengan Akihiko, kemana-mana saling berdua, saling memikirkan satu sama lain, bahkan Persona mereka pun bersaudara…

Tapi, tolong.

Kamar ini, pertama kalinya aku mengucap ‘suka’ terhadap seorang laki-laki. Pertama kali aku membuang rasa gengsiku sebagai wanita demi meyakinkan lelaki pertama yang telah mencuri hatiku…

…dan pertama kalinya kamu memelukku dan mengatakan kamu memiliki perasaan yang sama denganku, Shinji.

Aku duduk di sisi tempat tidur Shinjiro, lalu membuka isi box tersebut… ia meletakkan scarf buatanku yang kuberikan padanya dalam box itu juga. Agak kecewa dan sakit saat kulihat barang itu di situ tetapi saat kupeluk scarf itu, ada harumnya. Harum asli tubuh Shinjiro… tanda bahwa ia selalu memakai scarf itu. Scarf yang merupakan perpaduan antara kerja kerasku dan tanda terimakasih dan penghargaan darinya…

Kali ini aku menangis. Aku tidak akan berpura-pura tegar lagi. Di sini, ruangan ini, yang meski kosong dan sepi tapi aku bisa merasakan kehadirannya, kehangatan yang bisa membuatku merasa nyaman.

Shinjiro bodohku…

Lalu aku mendengar suara langkah kaki di koridor, lalu suara pintu terbuka di sebelah kamar Shinjiro, dan suara pintu menutup lagi. Itu pasti Akihiko, aku yakin itu…

Akihiko…

Aku tertawa kecil dalam tangisanku.

Ya, Akihiko adalah kekasihku yang lain… beberapa saat setelah Shinjiro terluka dan koma. Dia menyayangiku dan berkata akan selalu menjagaku, dan ia selalu mengatakannya dengan wajah memerah… Akihiko kecilku.

Tapi,

Tetap saja, aku tak bisa mengingkarinya…

Aku memang lebih lama mengenal Akihiko, dia juga tampan dan menawan, dia sudah terlihat menyukaiku dari dulu, tapi tetap saja.

Aku lebih menyukai Shinjiro yang baru kukenal sebentar, tetapi dengan karakternya yang jauh berbeda, bahkan terbilang unik daripada siapapun. Aku lebih menyukai Shinjiro yang hidup sendirian di jalanan dibandingkan Akihiko yang tidak pernah lepas dari perhatian dan dikagumi oleh para siswi yang bahkan ia tak tahu siapa saja namanya. Aku lebih menyukai sikap lembutnya yang tersembunyi di balik kesan seramnya dan hanya ia tunjukkan padaku seorang… Aku bahkan lebih mengingat hari-hari pendek yang kulewati bersama Shinji dibandingkan dengan masa sejak pertama kali aku bergabung dengan SEES dan melawan Nyx bersama Aki…

Aku bahkan berharap hari-hari seperti studytour, natal, dan sebagainya kulewatkan dengan Shinjiro… aku merasa aku hanya menjalankan amanat Shinjiro untuk menjaga dan berada di sisi Akihiko selama aku menjadi kekasihnya.

Aku perempuan yang jahat dan egois yah?

Tapi bagaimana kau bisa melupakan cinta pertamamu, apalagi saat ia pergi hanya beberapa hari setelah kami berdua saling tahu perasaan masing-masing dan bersatu? Aku tidak bisa mendengar suaranya karena ia terbaring koma… aku bahkan tidak memiliki izin untuk bertemu dan melihatnya, seperti saat Junpei memiliki izin untuk selalu menjenguk Chidori?? Aku bahkan tidak bisa memastikan apakah dia masih mengingatku atau kehilangan ingatan seperti yang lainnya… Apakah hanya aku yang menyimpan perasaan ini sendiri ataupun ia masih memilikinya juga, apalagi sekarang… saat Mitsuru dan Akihiko yang merupakan beberapa orang yang memiliki akses dengan kondisi Shinjiro pun, telah melupakanku pula. Yah, Aki pun melupakanku, melupakan perasaannya padaku dan hari-hari yang telah kami lalui…

Kadang aku pun merasa dunia ini tak adil…

Aku masih menangis dan terus menangis… hingga rasanya aku mulai mengantuk. Tuhan, semenjak hari melawan Nyx tersebut aku merasa tubuhku lebih cepat capek dan harus selalu tidur cepat…

Lama kelamaan aku pun merasa bahwa aku mulai sama dengannya, aku pun dapat merasakan bahwa waktuku sudah tak lama lagi…

Aku melangkah keluar dari ruangan tersebut, menutup pintu kamar Shinjiro, lalu beranjak menuju kamarku sendiri, dan pergi tidur, setelah sebelumnya berdoa agar aku bisa bertemu Shinjiroku sekali lagi, meski untuk terakhir kalinya.

Hari berikutnya,

Aku menjalani hari yang biasa saja di sekolah, sampai saat aku berjalan keluar dari kelasku. “Hei, kamu tahu nggak? Shinjiro-senpai hari ini keluar dari rumah sakit loh!! Aku nggak bisa bayangin rasanya setelah bangun dari koma selama itu…”

What?

Shinjiro sudah keluar dari rumah sakit? Bagaimana para biang gossip itu tahu lebih dulu dari aku? Oke, well, mereka memang selalu lebih tahu apapun dengan cepat… dan memangnya siapa yang akan memberitahuku? Mitsuru? Akihiko? Mereka saja sudah tidak mengingat siapa aku lagi, hanya sekedar anak seasrama saja.

Tapi itu semua tidak penting, yang aku harus lakukan adalah aku harus bertemu Shinjiro secepatnya!

Aku berlari mengelilingi Iwatodai. Mall, stasiun, strip mall, kuil, semua tempat yang bisa kukunjungi dan memiliki kemungkinan Shinjiro ada di sana. Tetapi hasilnya nihil. Kemanakah dia? Aku melihat jam tangan kulit pemberian Shinjiro yang melingkar di tanganku, waktu sudah semakin senja… tubuhku pun mulai melelah kembali dan akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke asrama dengan langkah hampa, tetapi masih dengan harapan aku bisa bertemu Shinjiro…

…beberapa menit kemudian aku sudah sampai di depan asrama. Aku menarik napas panjang dan membuka pintu utama… dan kutemukan lounge kosong. Aku takkan putus harapan. Aku berlari menuju dapur, berharap ada sosoknya …dan ia tidak berada di sana.

Aku ganti berlari menuju kamarnya di lantai dua, berharap dengan sisa tenaga akan bertemu dengannya di sana, hingga dalam hitungan detik aku sudah berada di depan pintu kamarnya. Kubuka pintunya pelan, berharap aka nada senyumannya yang menyambutku bahagia…

…dan ternyata ia pun tidak ada di sana. Kondisi kamarnya masih sama persis dengan saat kemarin aku meninggalkannya setelah berdiam diri beberapa saat di ruangan tersebut.

Kakiku pun lemas, aku jatuh terduduk dan merasa putus asa… air mataku berlinang dengan sendirinya dan dengan tubuh yang kelelahan aku berjalan pelan menuju kamarku sendiri…

Atap SMA Gekkoukan.

““Take good care of the ones dearest to you. If you wait until their time has come, and you’re clinging to their cold bodies… then it’s too late.”

Kalimat nyonya Kamiki itu masih terngiang jelas dan selalu ada di benakku. Aku melihat ke arah langit biru cerah… hari ini aku tidak mengikuti upacara kelulusan, justru berada di atap ini bersama Aigis menunggu yang lainnya datang, sesuai dengan janji yang pernah kami buat di Command Room. Saat ini aku hanya tahu bahwa aku dan Aigis saja yang masih mengingat jelas apa saja yang telah kami jalani, tetapi yah… aku percaya pada mereka, sama seperti mereka dulu mempercayaiku.

Tapi, tetap saja. Langit biru itu membuatku berpikir dengan kata-kata nyonya Kamiki. Jika aku tidak bisa bertemu mereka lagi,terutama pada Shinjiro, setidaknya aku sudah mengatakannya sebelum ia mengalami kejadian tersebut dan koma kan? Setidaknya aku pernah mengutarakan bagaimana aku mencintainya… harusnya aku ikhlas, dan tidak melemah seperti kemarin, meskipun aku juga perempuan biasa.

Aku masih melihat ke arah langit, saat Aigis mengucapkan hal yang mewakili perasaannya dan mulai menangis, sedangkan secara aneh aku mulai mengantuk… dan ia datang. Dengan suaranya yang lantang ia memanggilku.

Shinjiro!!!

“Tuhan, jangan bikin orang sakit maksain diri kayak gini deh… Maaf aku sempat melupakan apa yang sudah terjadi, tapi perasaanku padamu selalu sama seperti dulu… ”

Aku terdiam. Kaget. Tapi juga bahagia. Dia, dia yang selalu kutunggu akhirnya datang di sini!!!

“Shinji-kun,” air mataku mulai mengalir, air mata bahagia, “Kenapa kamu tahu aku ada di sini? Hari itu kan kamu masih koma dan tidak tahu janji ini??” Aku bangun dari rebahanku dan merentangkan tangan, mencoba meraih tubuhnya yang mendekat.

“Gadis yang kulihat dimimpiku… itu kamu… kamu menangis dan tertawa seperti biasanya,” Dia memelukku erat. “Aku mencintaimu dengan seluruh hidupku, kenapa aku harus tidak tahu dimana keberadaanmu?”

Aku tersenyum kecil sambil membenamkan wajahku dalam pelukannya. Akhirnya dia datang. Ada sosoknya, harumnya, suaranya... Dirinya seutuhnya, yang selalu kutunggu di tiap detik dan menitku.

“Yah… ini bukan mimpi kan? Kamu benar-benar di sini…” ia menatapku dengan tatapan tajamnya yang khas, tetapi memiliki kelembutan tersendiri. Tatapan Shinjiro-ku...

“Harusnya aku yang bilang begitu, tau,” aku tertawa kecil, “Aku sudah lama nggak ketemu kamu dan mendadak kamu di sini...”

Aku menikmati pertemuanku dengannya hingga akhirnya aku mendengar suara derap kaki menuju atap. Itu pasti mereka...

“Mereka itu tahu banget ya caranya ngehancurin suatu momen,” Shinjiro tergelak. Ia menoleh ke arah pintu tetapi aku menarik kerah bajunya dan menatapnya...

“Shinji, aku mengantuk...”

Shinjiro menatap lekat-lekat ke dalam mataku, dan sebelum ia sempat mengatakan apa-apa, aku teringat akan pesan dari nyonya Kamiki. Dan entah kenapa, aku merasa aku memang harus mengatakannya sebelum semuanya terlambat, dan selama aku masih bisa bertemu dengannya.

“Shinjiro, aku menyayangimu...”

Aku menutup mataku pelan-pelan sebelum aku melihat responnya padaku, tapi aku tahu dia terkejut, tersenyum, dan mengetahui apa maksudku... “Aku menyayangimu juga, Minako.”


...dan sebelum aku benar-benar tertidur, aku mendengar kata-katanya,

“Semuanya baik-baik saja...”




FIN.

~~~~~~~~~~~~~


Well di akhir emang sebenernya Minako-nya nggak cuman tidur sih, tapi meninggal >A< But yeah... ShinjiMina emang kisah paling menyedihkan di P3P sih... == tapi kayaknya gw nulis kebanyakan curhat deh hahahahahaa *diseplak* QAQ

Not as good as I ever did usually *kayak pernah nulis bagus aja* but farewell...

 
 
♥: blankblank
♫: musik dugem engga jelas =A=
 
 
 
tatsumi: Persona 3 - Minato Arisato (shadow)tatsumi8891 on January 29th, 2012 10:19 am (UTC)
ANJIIIIIIIR NOPAAAA GW JADI IKUTAN GALAU KAAAAN D'X

btw ada 1 yang "mengganggu"... aki ama mitsuru gak lupa ama minako pas maret itu,, coba aja lu ngomong ama mereka pas 3 maret itu... TAPI GAK MASALAH KOOOK >w< anggep aja demi penpik *biar makin galau*

btw *lagi* ITU IMAGE NYA NEMU DIMANAAA?? potongan doujin atau apa?? O___O
novalent strifenovalent on January 29th, 2012 02:00 pm (UTC)
EMANG SENGAJA DIBIKIN LUPA BIAR GALAU TUDEMAKS HAHAHA XD Itu nemu di zerochan, ga tau dapet darimana wkwkwk XD HOREE GALAUNYA MENULAR XD
tatsumi: Persona - Jack Frosttatsumi8891 on January 29th, 2012 03:05 pm (UTC)
zerochan?? minta link nyaaaaa =A=
novalent strifenovalent on January 29th, 2012 11:53 pm (UTC)
=A= nunggu ke kantor si aa lagi dong
tatsumi: Haruma X Takerutatsumi8891 on January 30th, 2012 04:41 am (UTC)
cupu mamaaaaa =A=